Sunday, June 17, 2012

Dakwah Door to Door yang Sering Dianggap Meresahkan

Mengapa saya menulis tentang ini? Karena kontrakan kawan saya baru saja didatangi seseorang bersurban yang melakukan dakwah door to door ini. Kemudian dia mengirim sms, "Wah, lagi enak-enak nonton tv didatengin orang bersorban jenggotan nyeramahin gw." karenanya saya langsung teringat beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil. Sebelumnya saya akan bercerita dulu. Ketika ayah saya masuk Islam, saya pun ikut mengenal Islam. Dan seiring pencarian ayah saya, saya sering diajak ke tempat-tempat dia mencari seperti apa sih Islam yang benar. Akhirnya dia mentok di Wahabi sedangkan saya di Mu'tazilah atau bisa dibilang di zaman modern ini seperti kalangan pemikir bebas (jika tak mau digunakan istilah liberal atau sekuler).

Dari Persis, NU, Muhammadiyah, Tarekat Sufi, Jama'ah Tabligh, sampai Wahabi, sudah dimasuki ayah saya dan diikuti pengajian-pengajiannya. Salah satunya adalah Jama'ah Tabligh yang mempraktikkan dakwah door to door, alias khuruj. Kalau di Jakarta markasnya di daerah Kebun Jeruk. Saya ingat dulu diajak keliling dari masjid ke masjid dan itikaf di tiap masjid yang disinggahi. Kemudian dari masjid yang disinggahi itu, para rombongan satu per satu berdakwah ke rumah-rumah warga. Masjid yang disinggahi itu ibarat sebuah command center. Selain dakwah door to door, diadakan pula acara halaqah atau pengajian di dalam masjid. Nanti setelah sebulan atau lebih, kami berpindah ke masjid lain. Adapun atribut yang digunakan biasanya berjubah panjang, bersurban, plus bawa ransel atau buntelan besar ke mana-mana.

Respon yang di dapat kadang-kadang memancing reaksi negatif dari warga, karena biasanya tiap masjid di daerah sudah ada mazhab apa, atau aliran apa yang dipraktikkan dalam tradisi warga di sekitar masjid itu. Misalnya masjid yang terbiasa dengan tradisi-tradisi tarekat, begitu disambangi oleh rombongan kami akan terjadi penentangan. Walaupun ada pula yang bersikap terbuka. Tetapi selain Jama'ah Tabligh ada pula yang mempraktikkan dakwah door to door ini. Setahu saya kelompok NII yang bertujuan mendirikan Negara Islam Indonesia. Mungkin yang satu ini yang lebih sering dianggap meresahkan oleh warga. Karena dakwahnya biasanya menjurus kepada ajakan kepada orang-orang untuk memertanyakan ideologi negara seperti Pancasila, dan sistem Demokrasi yang merupakan produk Barat, dan semacamnya. Berbeda dengan Jama'ah Tabligh yang tidak membawa arah pembicaraan dakwah door to door-nya kepada penggantian ideologi negara, politik, pembentukan negara Islam, dan sebagainya.

Namun, persoalannya mungkin warga tidak tahu mana yang Jama'ah Tabligh dan mana yang NII. Karena yang namanya atribut bisa digunakan siapa saja dan banyak kesamaannya. Atribut kan cuma simbol-simbol keagamaan saja. Sehingga ketika pintu diketuk dan terlihat pemandangan aktivis dakwah door to door ini, mereka langsung ketakutan. Padahal belum tentu isi ceramahnya menyentuh isu-isu sensitif seperti yang disebutkan di atas. Seingat saya waktu itu masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah atau SMP. Jadi setiap liburan dari pesantren di Solo, saya sering diajak khuruj oleh ayah saya. Namun, ternyata praktik dakwah door to door ini bukan cuma di Indonesia. Waktu saya di Mesir, ada juga mahasiswa Indonesia yang doyan melakukan seperti itu. Bahkan ada perkumpulannya sendiri, padahal antara si pendakwah dan yang didakwahi sama-sama kuliah di al-Azhar. Tetapi sekarang masa itu sudah berlalu, karena ayah saya juga sudah pindah aliran dan mentok di wahabi, jadi seringnya di ajak ke pengajian wahabi walau banyak nolaknya.

Kalau tidak banyak aliran, bukan Indonesia namanya. Ya kan?

No comments: